Tuesday, May 31, 2005

Atas Nama Cinta

Aku mendesah dalam kagum tentang apa yang ada di depan itu
Sesuatu nikmat yang tiada mampu kusentuh hingga ujung hidupku
Aku merenung dalam tanya tentang segala yang kujumpa sebelumnya
Tentang rasa yang secara harafiah tiada mampu ku cerita
Aku tertegun dalam khayal pada apa yang kuraba dan kurasa,
pada apa yang kukecap dan kudengar,
Tentang cerita yang tiada pernah akan habisnya bila nenek moyang bertutur kata
Sebuah fenomena yang suci kemudian berganti menjadi kotor dan liar,
Ya Cinta, sebuah lukisan jiwa yang tiada kan pernah musnah dalam sejarah

May 12, 2005

Nyanyian Sunyiku


Aku urai hari ku dengan secercah doa hari ini.
Berharap hari ini aku bisa menemukan hari yang baru daripada sehari
kemarin.
Aku bertemu dengan realita yang kuanggap hampir saja menjemput
ajalku,dan menerkam ku dalam kenelangsaan yang tiada menentu.
Satu demi satu
puing dalam hidup,ku kumpulkan lagi,untuk menguatkan diri ini. Bersyukur karena
ku sempat menelan retakan beling dalam hidupku. Mereguk manisnya anggurnya yang
kukecap dengan nikmat.
Aku hadapi semua laksana busur panah yang melesat
untuk tepat kesasaran. Tetapi terkadang angin menghadang,dan aku tersungkur
jatuh,dan lagi untuk kesekian kali.
Aku tiada pernah menyesal untuk apa yang
kuhadapi,kujalani dan kudapati. Karena semua keputusanku,semua jalan hidupku.
Aku berkuasa atas diriku. Bukan kamu,dia,atau siapapun yang ada di sekelilingku.
Sebab mereka hanya pelengkap untuk membuktikan aku ada.Aku hidup.

May 10, 2005

Limbung

Limbung
Ku terdiam sejenak....
Pikiran ku sarat dengan segala tindakan yang bergumul tiada menentu...
memaksa ku bergerak,tapi tiada dapat kuturuti satupun itu...
aku terlalu merindu hingga tiada mampu berdiri lagi...
Aku hanya mampu berpikir seolah semuanya kuharap sudah terjadi dan kualami
Aku menggila dengan segala kejadian yang melanda jiwa
Penuh dengan segala impian yang tiada kunjung datang
meminta semuanya cepat berakhir saja,karena aku tiada tahan menanti
akan penantian,atau apapun itu namanya yang selalu mereka terjemahkan dengan nama kerinduan...
Aku menyepi...aku menunggu...aku menangis..dan tiada yang mampu usir rasa itu...
Aku...
dan segala duniaku....
April 08, 2005


Jangan salahkan raga ini bila masturbasi
Setiap hari yang terlintas bercinta diatas mimpi
Kepada siapa lagi kubagi nafsu ini
Kecuali kepada alam pikiran liar diri
Lekas kembali,
Aku butuh hangat tak terperi
Aku butuh kasih yang lama pergi
Lekas,
Sebelum semua ini lelah,dan kukebiri

March 26, 2005

Untukmu Raja

Kucoba bertahan di atas segala risau yang melanda
Kucoba menyepi walau kemelut trus selimuti jiwa
Tiada pernah ku rasa seperti ini sebelumnya,
Semua dera yang ku jalani meski berakhir sudah,
ya,berakhir diatas nista yang tak pernah kusangka,
Sirna disaat semua cita mulai membuncah di sukma,
Untukmu raja...untukmu cinta...kudamaikan raya...
March 25, 2005

Ku terjemahkan ragaku
Di dalam nafsu yang memburu
Ku perbudak hidupku
Ke dalam cinta-cinta yang palsu
Ku terjebak didalam masa lalu yang trus ikatku
Dan entah sampai kapan semua itu berlalu...
Ku nodai segalanya atas nama waktu
Kulacurkan batinku dan kuamini dengan pilu
Kini,
Ku persembahkan semuanya hanya untuk ungu
Ku gadaikan semuanya untuk sebuah rasa rindu,
Ya...rasa rindu yang trus mendera sukmaku.
March 18, 2005 in life and the problems

Sunday, May 29, 2005

Komet terbang,hati lantak
Bintang jatuh,cinta terarak
Lahar panas,jiwa teriak

Domba yang hilang

Sudah berapa lama aku tiada mampir dan diam dalam doaku
Aku pura-pura sibuk dengan segala sesuatu yang tiada menentu

Sudah berapa lama tiada kupanggil nama Mu,Tuhanku
Aku hampir saja melupakanMu,sedangkan Engkau tetap memelukku

Sudah berapa lama tiada sempat ku menangis dalam kenisahMu
Sekedar menceritakan derita yang menghimpit batin dan jiwaku

Sudah berapa lama tiada ku jalani perintahMu, Allahku
Amin pun tiada pernah terlintas dari bibirku yang kelu

Aku benar-benar berjalan jauh dari pandangan Mu
Domba hilang yang terpisah dari kawanannya,pergi ke ujung tenggara

Aku benar-benar bergerak ke arah rel yang tiada berujung jalan
Pergi menyendiri dan berharap andalkan semua kekuatan


dalam riak yang tenang,terkadang dasarnya penuh gelombang besar
yang tiada mampu ditebak,meskipun angin diluar sana kencang menggoyang
dalam sumur yang gelap tiada bertuan,kadang ujungnya sangatlah dangkal
hanya kasat mata tiada mampu melihat sesuatu yang temaram dan pekat hitam

Dua minggu lagi

Dua minggu lagi aku akan pulang ke tempat dimana ibuku pernah melahirkan ku.

Dua minggu lagi,aku akan bertemu dengan udara panas,debu jalanan,dan hiruk pikuk jakarta.

Dua minggu lagi, aku akan berkumpul dengan orang tuaku,adik-adikku,dan sanak saudaraku.

Dua minggu lagi,aku kan habiskan waktuku 60 hari di rumah orang tuaku yang penuh cinta.

Dua minggu lagi,aku akan bercerita tentang dinginnya kota Inggris yang ribuan kilometer jauhnya.

Dua minggu lagi,aku akan dengar beribu petuah dan mulut ibuku,dan suara tegas ayah yang selalu kurindu.

Dua minggu lagi,aku akan dengar teriakan ibuku pengganti weker untuk mengingatkan ku bangun pagi.

Dua minggu lagi,aku akan dengar suara ayahku menggelegar dan kami bertengkar tentang hal yang sepele lagi.

Dua minggu lagi, aku akan dengar suara adik-adikku berangkat kuliah dengan rebutan mobil yang mana yang akan dipakai.

Dua minggu lagi,aku akan merasakan masakan ibuku yang meskipun itu-itu saja tapi ia lakukan dengan cinta

Dua minggu lagi,aku rasa nya mulai menggila bila ingat keputusanku untuk pergi jauh dari sisi mereka.

Dua minggu lagi, rasanya tiada sabar untuk tidur dan merebahkan ketakutanku didalam rumah hangatku.

Dua minggu lagi,dan setelah itu aku sadari 60 hari ku pun telah berlalu,dan aku pun kembali lagi.

Dua minggu lagi,dan tanpa terasa ada perasaan berat tuk tinggalkan rumah hangat penuh cinta.

Dua minggu lagi, apa yang bisa aku lakukan dengan waktu yang sesingkat itu?

Dua minggu lagi,dan waktu bergulir tanpa terasa,kemudian aku terbangkan anganku....

Elegi hidup manusia semu

(i)

Aku terbangun akan hari baru

Belum ada rencana yang ingin kulakuan

Terdiam di ujung tempatku tertidur semalam

Mengingat apa yang akan ku kerjakan kemudian

(ii)

Bergeser ke jendela kamar

Nyalakan sebatang rokok,dan mulai melihat suasan jalanan

Tatapan kosong,hampa,dera duka,dan merasa terdampar

Di dunia tiada bernama tapi jelas nyata dan berisi kehidupan


(iii)

Bergerak turun,berjalan,tiada tujuan

Kemudian berhenti,sendiri,kesepian dan ketakutan

Terus berjalan meski tiada tahu kaki mulai penat dan sasar

Mulai menyalahkan keadaan,kehidupan,yang seharusnya ku nikmati

(iv)

Manusia macam apa aku ini???

Rasa syukur pun perlu pamrih

Buatan siapa aku ini???

Rasa cinta ku gadaikan tanpa sedih

Terlahir dari apa aku ini???

Tiada lagi tawa tulus dan senyum yang lirih

Tiada lagi kataku yang mampu sejukkan hati

Semua kuganti dengan sebuah ilusi

(v)

Aku pun kembali keduniaku,tempatku bergumul dengan waktu

Entah sampai kapan aku hidup dengan sesuatu yang semu

Diam

Diam....

Tertunduk....

Hanya melipat tanganku....

Diam...

Tetes air mata jatuh satu persatu dari ujung mataku...

Tak ada satu bahasa pun yang ku ucapkan dari mulutku....

Diam...

Tak sanggup berkata-kata

Bibir bergetar,lidah kelu

Diam....

Memandang Mu,dan sekali lagi tertuduk bisu

Tiada lagi kata yang mampu wakili duka Mu

Diam....

Lama tak bergeming, dan hanya tangis yang tersedu

Kemudian menjadi raungan yang membahana isi ruangan

Diam...

Tak terasa waktu berlalu,dan aku tetap diam tak bicara

Aku tiada berdaya

Diam...

Tuhan... adakah namaku tertoreh di ujung ingatan Mu???

Diam...

Tuhan... Adakah dosaku Kau hapus dari buku penghakiman Mu???

Diam...

Dan aku berjalan menjauh dari dunia yang selalu kurindu.

Sunday, May 22, 2005

Disini hanya ada aku

Disini hanya ada aku,dan desahan nafasku
Memburu dalam satu hembusan yang ragu
Disini hanya ada aku dan ragaku yang luruh
Digerogoti oleh luka hati yang terkoyak lusuh
Disini hanya ada aku dan sukma yang ungu
Penuh peluh oleh lara,dan kebahagiaan abu-abu
Disini hanya ada aku dan batin yang sarat kelu
Bertanya tentang arti hidup dan tawa yang semu
Disini hanya ada aku dan gundukan jiwa yang rapuh
Berharap seseorang memeluknya dan hangatkan dengan rindu
Mencoba menanti satu hari lagi yang baru
Disini hanya ada aku dan duniaku yang tiada mampu diterjemahkan oleh biru

siluet persahabatan

Terseret dalam duka,terdiamku
Teronggok dalam sepi,tangisku
Tersudut dalam nerapu,deritaku
Terpenjara dalam nista,mahligaiku
Terbentur dalam dosa,akar hidupku

Aku mau mati...tiada berdaya,tiada berarti
Aku menyendiri,diatas tungku api yang tak terperi

Aku mau pergi dari ruang isolasi mimpi
yang tiada menghadirkan seberkas pelita hati

Berkubang dalam bejana dunia yang sarat luka
Berteman dengan musuh dan berselimutkan lara
Berdoa dalam tanya,dihempas jawaban yang menggila

Aku serahkan jiwaku utuh untuk sahabatku,ternyata musuh
Aku bagikan jantungku, ternyata diputusnya ulu nadiku
Aku hangatkan ia dengan damainya cintaku,ia bakar sukmaku

Aku bosan pergi dengan berlari
Aku lelah dan butuh tempat menepi