*Sepotong Senja Buat Pacarku
Belakangan ini aku suka sedih sendiri.Menangis dalam kelam. Bersedih dan tersedu di pekatnya malam. Entah apa saja yang terlintas dalam pikiranku. Semua menggelayut satu persatu,tanpa permisi terlebih dahulu.
Satu minggu yang lalu,aku selalu membayangkan tentang masa depan yang sesungguhnya belum pernah kujalani,dan tiada ujungnya. Tiada epilog,molonog,ataupun dialog yang dapat kuterka tentang masa depan. Tetapi aku selalu risau,galau untuk menghadapi hari itu. Hari dimana semuanya serba hitam dan putih. hari dimana aku dituntut untuk menjadi seseorang yang lebih punya arti daripada hari ini. Hari dimana segala pembicaraan harus berbentuk sebuah subjek daripada hanya sebagai objek. Bukan omong kosong. Bukan hanya sekedar berbincang dan tiada menghasilkan sesuatu. Hari itu adalah hari dimana aku tukar kekanak-kanakanku menjadi seorang wanita tangguh yang dewasa dan mampu berdiri dengan tegap dan hati tegar.
Mungkin terdengar klise,atau sekedar basa-basi. Tetapi diusiaku yang bisa dikatakan bukan remaja lagi,aku punya begitu banyak tanggung jawab yang sudah menanti dibalik pintu kamarku,di ujung jalan yang sangat berbatu dan diluar jendela kamar ku yang kelu. Semua itu sudah menanti tanpa perlu aku tunggu.
Aku bertanggung jawab atas mimpi orang tuaku,aku bertanggung jawab atas semua usaha ku untuk mencapai mimpi yang ku punya untuk kupersembahkan kepada mereka. Obsesiku tentang Rumah singgah. Rumah untuk mereka yang mengembara dari satu jembatan ke emperan toko kosong lainnya. Rumah dimana aku mampu untuk belajar tentang arti hidup dari mereka. Aku pun punya tanggung jawab untuk mendidik dan memberi contoh kepada adik-adik ku untuk mencapai cita-cita setinggi mungkin. Aku punya tanggung jawab untuk berkeluarga,karena adat timur masih rentan dengan pernikahan dan sarat dengan berbagai pertanyaan yang menusuk telinga apabila putri tertua mereka belum jua menikah. Dilihat dari relasi ku,kali ini sangat sulit bagiku mendapat restu. Kami tidak direstui oleh ayahku terutama ibuku. Aku batak dan dia jawa.
Begitu banyak tanggung jawab yang menghimpit tubuhku. Begitu banyak persoalan yang menjemu mampir kedalam kehidupanku tanpa permisi. Aku menjerit sendirian. Menangis hingga relung hatiku terluka sangat dalam. Aku menyumpah dalam sesah dan berdoa dalam diam. Aku sendiri. Aku sepi. Aku terluka dan tiada yang mampu obati pedih ini.
Setiap kali aku berdoa. Hanya kalimat 'Kuatkan aku'. Itu saja yang terlintas dalam hatiku. Terkadang aku menjadi orang yang paling bodoh dalam menyampaikan doaku. Begitu banyak kata yang harusnya kurangkai dengan sulaman kataku hingga menjadi doa yang lembut dan nyaring untuk Tuhanku. Tapi lidahku kelu. Bibirku pilu. Hanya tangis yang mampu aku sumbang dalam doaku. Kepalaku hanya mampu tertunduk,dan airmataku menetes satu persatu hingga mampu mewakili kemelut dalam jiwaku.
Bertambah nya umur bukan sebuah tolok ukur kita akan menjadi seorang yang dewasa. Bukan umur yang bisa jadikan landasan manusia berbicara tentang hidup. Bukan manusia yang ber edukasi tinggi mampu menerjemahkan dunia secara harafiah. Bukan seorang kaya yang mampu memberikan seluruh hartanya dan menghamburkannya lalu ia tahu tentang dunia. Dan bukan si tampan maupun si cantik yang dikelilingi oleh para pengagumnya dan mampu hanyutkan semua orang dalam senyum maut nya maupun dalam wangi aroma tubuhnya kemudian mereka berpengalaman tentang mencari makna hidup. Presiden kita pun sedang belajar menapaki arti hidup dari rakyatnya yang miskin,menderita,ketakutan,dirundung malang,dan kesepian.
Dari mereka lah kita mengerti arti hidup. Kepada mereka lah sepantasnya kita pertanyakan arti hidup. Dan didalam dunia mereka lah makna hidup itu lebih berharga.
Seorang kaya tiada akan pernah menjadi seorang kaya jika ia tiada mampu berderma. Seorang pandai dan cendekia pun tidak pantas dikatakan pintar jika ia tidak mampu membagikan ilmunya kepada mereka yang tidak sempat mengenyam pendidikan karena mahalnya biaya pendidikan. Dan seorang pemimpin pun tidak pantas dikatakan sebagai pemimpin,jika ia tiada mampu mendengar usul dari bawahannya.
Hidup ini untuk belajar. Dimana kita semua mampu menjadi kaya,mampu menjadi pemimpin dan mampu menjadi cendekia. Asal kita mau berbagi. Asal kita mau sedikit memahami,dan mencoba lebih mengerti daripada dimengerti. Dan kita boleh dengan bangga berkata,aku lebih menghargai hidup dan aku mampu mendefinisikan hidup kepada sesamaku. Karena alas dari semua itu adalah Cinta.
Aku berharap saat nya nanti,aku mampu katakan itu kepada siapapun generasi penerusku kelak. Hidup hanya sebentar. Kita hanya mati memakai satu pakaian utuh atau bahkan telanjang. Menjadi bangkai. Dan dihari penghakiman bukan agama,status sosial,suku,berapa kali kita menikah,berapa kali kita mencuri dan berapa kali kita berdusta. Tetapi yang terlintas pikirkanku saat ini mungkin Tuhan akan bertanya. 'Pernah kah kamu melihat Aku di dalam mata saudaramu yang menderita?'. Pernah kah kamu mengunjungi aku di dalam penjara? Pernahkah kamu menjengukku ketika aku sakit atau bahkan ajal menjemputku?. Pernahkah kamu meberi aku beras bahkan makanan untuk mengurangi kelaparan yang aku alami dijalanan sana? Atau pernahkan kamu memberikan aku pakaian ketika aku kedinginan?Dan menghiburku ketika aku kededihan?. Itulah pertanyaan-Nya..
Cheers,
Celetophia.
* Dikutip dari judul Sepotong Senja Buat Pacarku karya Seno Gumira Ajidarma.
Terima kasih untuk insipirasi judulnya.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home